PHK 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Jadi Penyumbang Terbesar
PHK 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Jadi Penyumbang Terbesar
Kemenaker mencatat sekitar 43.000 pekerja terkena PHK hingga Juni 2026, berdasarkan data sementara yang terus diperbarui melalui portal Satu Data Ketenagakerjaan.
Sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar angka PHK, terutama industri padat karya yang menghadapi tekanan ekonomi.
Kemenaker melakukan berbagai langkah mitigasi, antara lain meningkatkan layanan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), memperluas akses pelatihan kerja, serta mengoptimalkan dialog bipartit dan tripartit untuk mencegah PHK semakin meluas.
Pemerintah juga menyiapkan strategi penyerapan tenaga kerja baru agar pekerja terdampak PHK maupun pencari kerja memiliki peluang kembali memasuki dunia kerja.
Pengamat ekonomi M. Rizal Taufikirahman (INDEF) menilai gelombang PHK dipicu oleh melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga, kenaikan biaya produksi, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Wilayah dengan konsentrasi PHK tertinggi berada di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Timur yang merupakan pusat industri manufaktur nasional.
Industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, elektronik, serta sebagian industri makanan dan minuman menjadi sektor yang paling rentan terdampak.
Perusahaan berorientasi ekspor juga menghadapi tantangan akibat perlambatan ekonomi global yang menyebabkan permintaan dari pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok belum sepenuhnya pulih.
PHK yang terus berlanjut berpotensi meningkatkan pengangguran, menurunkan konsumsi rumah tangga, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
INDEF mendorong pemerintah untuk memberikan insentif bagi industri padat karya, memperkuat perlindungan terhadap praktik impor yang merugikan, mempercepat investasi penyerap tenaga kerja, serta memperluas program reskilling dan upskilling bagi pekerja terdampak PHK.
